Showing posts with label Bimbingan Konseling. Show all posts
Showing posts with label Bimbingan Konseling. Show all posts

Sunday, November 10, 2013

makalah psikologi pendidikan - faktor yang mempengaruhi belajar


BAB I
PENDAHULUAN
Menurut C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology, Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat/hasil dari pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman siswa mengalami suatu proses belajar.[1]
Menurut Syai’ful Bahri Djamarah dalam bukunya “Psikologi Belajar” pengertian belajar adalah serangkai kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik.[2]
Secara umum faktor-faktor yag mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar. Tugas utama seorang Guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila Guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa untuk mampu belajar. Hal-hal seperti berikut, diantaranya Guru telah mengajar dengan baik, ada siswa yang belajar dengan giat, siswa yang berpura-pura belajar, siswa yang belajar dengan setengah hati, bahkan adapula siswa yang sesungguhnya tidak belajar. Maka dari itu, sebagai Guru yang professional harus berusaha mendorong siswa agar belajar dengan baik.
Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar, menurut Lukmanul Hakim “Tiga aspek yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar yaitu: kepribadian, pandangan terhadap anak didik dan latar belakang guru”.[3]
Terdapat bermacam-macam hal yang menyebabkan siswa tidak belajar seperti siswa yang enggan belajar karena latar belakang keluarga, lingkungan, maupun situasi dan kondisi di kelas. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian ketika Guru mengajarkan topic tertentu adapula siswa yang giat belajar karena dia bercita-cita menjadi seorang ahli.
BAB II
ISI
Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
A.    Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis dan faktor psikologis.
  1. Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
  • Pertama, keadaan jasmani. Keadaan jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
  • Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Panca indera yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula.
  1. Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.

A.    Kecerdasan/intelegensi siswa
Tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini berarti, semakin tinggi kemampuan intelijensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelijensi siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh kesuksesan.
Setiap calon guru dan guru profesional sepantasnya menyadari bahwa keluarbiasaan intelijensi siswa , baik yang positif seperti superior maupun yang negatif seperti borderline, lajimnya menimbulkan kesuksesan belajar siswa yang bersangkutan. Disatu sisi siswa yang sangat cerdas akan merasa tidak mendapat perhatian yang memadai dari sekolah karena pelajaran yang disajikan terlampau mudah baginya. Akibatny dia enjadi bosan dan frustasi karena tuntutan kebutuhan keinginanya merasa dibendung secara tidak adil. Disisi lain, siswa yang bodoh akan merasa payah mengikuti sajian pelajaran karena terlalu sukar baginya. Karenanya siswa itu sangat tertekan, dan akhirnya merasa bosan dan frustasi seperti yang dialami rekannya yang luar biasa positif.[4]
Para ahli membagi tingkatan IQ bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman dan Merill sebagai berikut:
  1. Kelompok kecerdasan amat superior (very superior) merentang antara IQ 140–169
  2. Kelompok kecerdasan superior merentang antara IQ 120 – 139
  3. Kelompok rata-rata tinggi (high average) merentang antara IQ 110 – 119
  4. Kelompok rata-rata (average) merentang antara IQ 90 – 109
  5. Kelompok rata-rata rendah (low average) merentang antara IQ 80 – 89
  6. Kelompok batas lemah mental (borderline defective) berada pada IQ 70 – 79
  7. Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally defective) berada pada IQ 20 - 69, yang termasuk dalam kecerdasan tingkat ini antara lain debil, imbisil, dan idiot.


B.     Motivasi
Motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalal diri seseorang yang mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suat tujuan (kebutuhan).[5]
Sedangkan motivasi dalam belajar menurut Clayton Aldelfer adalah kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi hasil belajar sebaik mungkin.[6]
Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca karena membaca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannyatetapi sudah mejadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar(ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen, dalam Hayinah (1992)yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar anatara lain adalah:
  1. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelisiki dunia yang lebih luas
  2. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju
  3.  Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru, dan teman-teman.
  4. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna baginya.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar diri individu tetapi memberikan pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, danlain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungansecara positif akan mempengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.


C.     Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni : (1) Menerima kesan, (II) Menyimpan kesan, dan (III) Memproduksi kesan
Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan. Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya. Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan alat peraga kesannya akan lebih dalam pada siwa. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi siswa, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada G (gudeg), D (dan), A (ayam), B (bebek) dan sebagainya..
D.    Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara dan belum tentu diikuti dengan rasa senang, sedangkan minat selalu diikuti dengan rasa senang dan dari situlah diperoleh kepuasan.[7]
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapainya atau dipelajaranya.
Untuk membangkitkan minat belajar tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain:
  1. Dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplore apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar.
  2. Pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.
E.     Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan cara yang relatif tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif .[8]
Sikap juga merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuia dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan. Siswa memperoleh kesempatan belajar. Meskipun demikian, siswa dapat menerima, menolak, atau mengabaikan kesempatan belajar tersebut.
F.      Bakat
Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus, yaitu khusus dalam suatu bidang atau kemampuan tertentu.[9]
Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil. Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri. Karena belajar juga dipengaruhi oleh potensi yang dimilki setiap individu,maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memperhatikan dan memahami bakat yang dimilki oleh anaknya atau peserta didiknya, anatara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
  1. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam-macam strategi belajar-mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat. Dalam pengajaran klasikal, menurut Rooijakker, kekuatan perhatian selama tiga puluh menit telah menurun. Ia menyarankan agar guru memberikan istirahat selingan beberapa menit.
  1. Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan teman- temannya. Semakin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin besar pula memperoleh pengakuan dari umum dan selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat. Dan hal yang sebaliknya pun dapat terjadi. Kegagalan yang berulang kali dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bila rasa tidak percaya diri sangat kuat, maka diduga siswa akan menjadi takut belajar. Rasa takut belajar tersebut terjalin secara komplementer dengan rasa takut gagal lagi. Maka, guru sebaiknya mendorong keberanian siswa secara terus-menerus, memberikan bermacam-macam penguat dan memberikan pengakuan dan kepercayaan bagi siswa.
  1. Kebiasaan Belajar
Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain:
  1. Belajar pada akhir semester
  2. Belajar tidak teratur
  3. Menyia - nyiakan kesempatan belajar
  4. Bersekolah hanya untuk bergengsi
  5. Dating terlambat bergaya seperti pemimpin
  6. Bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain,
  7. Bergaya minta “belas kasihan” tanpa belajar.
Kebiasaa-kebiasaan buruk tersebut dapat ditemukan di sekolah yang ada di kota besar, kota kecil, pedesaan dan sekolah-sekolah lain. Untuk sebagian orang, kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh ketidak mengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal seperti ini dapat diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan diri.
  1. Cita-cita Siswa
      Pada umumnya, setiap anak memiliki suatu cita-cita dalam hidup. Cita-cita itu merupakan motivasi instrinsik. Tetapi, ada kalanya “gambaran yang jelas” tentang tokoh teladan bagi siswa belum ada. Akibatnya, siswa hanya berprilaku ikut-ikutan.
Cita-cita sebagai motivasi instrinsik perlu dididikan. Penanaman memiliki cita cita harus dimulai sejak sekolah dasar. Di sekolah menengah didikan pemilikan dan pencapaian cita cita sudah semakin terarah. Cita-cita merupakan wujud eksplorasi dan emansipasi diri siswa. Penanaman pemilikan dan pencapaian cita-cita sudah sebaiknya berpangkal dari kemampuan berprestasi, dimulai dari hal yang sederhana ke yang semakin sulit.
Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi, maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri.
B.     Faktor Eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, faktor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan faktor lingkungan nonsosial.


  1. Lingkungan sosial
Yang termasuk lingkungan sosial adalah pergaulan siswa dengan orang lain disekitarnya, sikap dan perilaku orang disekitar siswa dan sebagainya. Lingkungan sosial yang banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orangtua, peraktk pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegitan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
a.       Lingkungan sosial sekolah
seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
b.      Lingkungan sosial masyarakat.
Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
c.       Lingkungan sosial keluarga.
Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
  1. Lingkungan non sosial
 Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah;
a.       Lingkungan alamiah adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup, dan berusaha didalamnya. Dalam hal ini keadaan suhu dan kelembaban udara sangat berpengaruh dalam belajar anak didik. Anak didik akan belajar lebih baik dalam keadaan udara yang segar. Dari kenyataan tersebut, orang cenderung akan lebih nyaman belajar ketika pagi hari, selain karena daya serap ketika itu tinggi. Begitu pula di lingkungan kelas. Suhu dan udara harus diperhatikan. Agar hasil belajar memuaskan. Karena belajar dalam keadaan suhu panas, tidak akan maksimal.[10]
b.      Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c.       Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.













BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Faktor- faktor yang mempengaruhi proses belajar terdiri atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan factor lingkungan nonsosial.
            Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.
Faktor-faktor eksternal yang meliputi lingkungan social diantaranya faktor sekolah, masyarakat, dan keluarga. Sedangkan faktor eksternal lingkungan non-sosial diantaranya lingkungan alamiah, instrumental, dan mata pelajaran.










REFERENSI
Djali, 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara
Drs. Syaiful Bahri Djamarah, 2002. Psikologi Belajar. Jakarta, CV Rineka Cipta.
Lukmanul Hakim, 2010. Perencanaan Pembelajaran, Bandung, CV Wacana Prima
Muhibbin syah, 2003. Psikologi belajar. Jakarta. PT. Raja Grafinda Persada
Nana Syaodih.S. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung. Remaja
Rosdakarya.
Nashar, 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal Dalam Kegiatan Pembelajaran.
Jakarta. Delia Press
Slameto, 2003. Belajar dan faktor - faktor yang mempengaruhinya.  Jakarta. Rineka Cipta



[2] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, 2002. Psikologi Belajar. Jakarta, CV Rineka Cipta. hal. 13
[3] Lukmanul Hakim, 2010. Perencanaan Pembelajaran, Bandung, CV Wacana Prima.hal. 91

[4] Muhibbin syah, 2003. Psikologi belajar. Jakarta. PT. Raja Grafinda Persada. Hal 147-148
[5] Djali, 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara. Halalaman 101
[6] Nashar,2004. iPeranan Motivasi dan Kemampua awal dalam Kegiatan Pembelajaran. Jakarta. Delia press. Hall 42
[7] Slameto, 2003. Belajar dan faktor - faktor yang mempengaruhinya.  Jakarta. PT  Rineka Cipta. Halalaman 57
[8] Muhibbin syah, 2003. Psikologi belajar. Jakarta. PT. Raja Grafinda Persada. Hal 151
[9] Nana Syaodih.S. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal 101
[10] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, 2002. Psikologi Belajar. Jakarta, CV Rineka Cipta. hal. 143-144

Friday, April 26, 2013

Makalah Bimbingan Konseling (Prinsip-prinsip Konsling)

BAB I
PERINSIP – PRINSIP BIMBINGAN KONSELING

Seperti disiplin ilmu bidang-bidang yang lain, penyuluhan konseling juga mempunyai penekanan dan prinsip-prinsip tersendiri. Prinsip – prinsip yang dimaksudkan itu adalah sebagai berikut:
1.      Konseling memelurkan seorang konselor untuk mendengar dan memahami apa yang dikatakan oleh konseli.
2.      Konseling diberikan pada individu yang normal yang sedang menghadapi masalah.
3.      Orientasi konseling haruslah ke arah kerjasama dan bukan paksaan.
4.      Konseling merupakan proses yang bertujuan mempengaruhi tingkah laku seseorang secara sukarela atau dengan kehendak sendiri.
5.      Memberikan hak kepada orang untuk membuat rencana dan keputusan sendiri.
6.      Dialog ( diskusi) dalam konseling merupakan cara yang paling baik untuk memudahkan perubahan tingkah laku.
7.      Pendapat klien hendaklah dijadikan pertimbangan dalam menetapkan suatu keputusan.
8.      Konselor hendaklah seseorang yang profesional dan mampu untuk membantu kita.
9.      Konseling haruslah berdasarkan etika yang baik.
10.  Kerjasama antara guru, pelajar konselor dan pihak sekoalah sangat menentukan keberhasilah proses konseling di sekolah.
11.  Konseling akan berhasil, jika direncanakan dengan baik.
12.  Secara umum bimbingan konseling berlaku untuk semua orang dan tidak hanya terbatas bagi orang yang mempunyai masalah.
13.  Dalam proses konseling, kita dapat diharapkan berkembang, sehingga setelah proses ini, kita dapat menerima dan memahami dirinya dengan baik. ( Mohd. Salleh, 1993: 15).

Menurut Basri ( 1989 : 15 ) prinsip-prinsip konseling menurut islam adalah :
1.      Konseling harus menyadari hakikat manusia, dimana bimbingan atau nasehatmerupakan sesuatu yang penting dalam islam.
2.      Konselor sebagai contoh keperibadian, seharusnya dapat memberi kesan yang positif kepada klien.
3.      Konseling islam sangat mendukung konsep saling menolong dalam kebaikan.
Sebagaimana  dalam al-quran bahwa :



74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia

4.      Konselor haruslah mempunyai latar belakang agama ( aqidah, syari’ah, fiqh dan akhlaq) yang kuat.
5.      Konselor haruslah memahami konsep manusia menurut pandangan islam, sehingga ia dapat menyadarkan dan mengembangkan personaliti yang seimbang pada kita.
6.      Pembinaan kerohanian, hendaklah melalui ibadah dan latihan- latihan keagamaan.

Sedangkan menurut Ee Ah Meng ( 1994 : 7) prinsip- prinsip dasar dan bimbingan konseling adalah sebagai berikut:
1.      Bimbingan adalah bagian dari tugas pendidikan.
2.      Bimbingan adalah suatu proses pengetahuan.
3.      Bimbingan adalah untuk semua individu.
4.      Bimbingan merupaka suatu proses seumur hidup, artinya dari tingkat sekolah rendah sampai ke perguruan tinggi.
5.      Bimbingan lebih dekat kepada pencegahan daripada memperbaiki.
6.      Rahasia dan masalah-masalah pribadi kita hendaklah di jaga oleh konselor.
7.      Data – data pribadi klien haruslah lengkap, seperti : latar belakang keluarga, minat, bakat, tujuan, dan kesehatan.
8.      Pembimbing haruslah bersifat terbuka, tidak menghukum, sabar dan mudah ditemui.
9.      Setiap guru adalah pembimbing. Salah satu tugas guru adalah memahami masalah murid dan berusaha untuk menolong mereka.
10.  Bimbingan menolong klien  menetapkan tujuan yang realistik, sebanding dengan kemampuan, bakat dan minatnya.
11.  Waktu konsultasi hendaklah mencukupi, sehingga kita dapat menyampaikan atau meluahkan semua masalah yang dihadapinya.
12.  Seorang pembimbing hendaklah dilengkapi dengan kemahiran- kemahiran tertentu dalam proses menolong orang lain.
13.  Dalam  menghadapi seseorang yang bersetatus pelajar, konselor hendaklah mengadakan hubungan baik dengan wali kelas, guru-guru lain, kepala sekolah dan orang tua guna memperoleh informasi yang lengkap.
14.  Tempat bimbingan hendaklah dilengkapi dengan peralatan yang cukup.
15.  Baik murid- murid disekolah maupun para klien  tidak boleh di paksa untuk menerima sesuatu keputusan yang diberikan oleh konselor.
Sebagaimana  tertera di dalam al’quran








264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
16.  Bimbingan dijalankan dengan keyakinan bahwa setiap seseorang berupaya untuk berkembang dan berubah ke arah yang positif.
17.  Bimbingan harus dapat menjangkau dan menitik beratkan waktu sekarang dan waktu yang akan datang.
18.  Bimbingan tidak sama pada setiap/ klien, hal ini ada kaitan dengan kemampuan, minat, bakat serta motivasi dari mereka.

Di samping itu, Awang ( 1984 : 6) mengatakan prinsip-prinsip bimbingan dan kmonseling adalah  sebagai berikut :
1.      Kegiatan-kegiatan bimbingan mestilah dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembanmgan individu, baik dari segi fisik, mental dan emosi.
2.      Layanan bimbingan hendaklah dibrikan kepada semua individu.
3.      Tujuan yang hendak dituju oleh bimbingan ada lah kearah melahirkan individu-individu  yang dapat merealisasikan secara realistik harapan dan cita-cita.
4.      Bimbingan dan pengajaran merupakan suatu proses yang bertujuan mengubah aspek-aspek tertentu  di dalam diri individu.
5.      Bimbingan merupakan suatu proses yang bertujuan mengubah aspek-aspek tertentu didalam diri individu, oleh karena itu waktu yang cukup sangat diperlukan dalam proses ini.
6.      Layanan bimbingan konseling merupakan suatu layanan yang kontineu sepanjang hayat individu, karena seseorang itu selalu berkembang dari suatu keadaan kepada keadaan lain.
7.      Untuk berhasilnya program bimbingan, maka diperlukan keahlian / kecakapan konselor.
8.      Disebabkan konseling merupakan suatu bidang yang profesional, diharapkan klien/individu dapat mematuhi  peraturan-peraturan yang telah diterapkan.
9.      Untuk keberhasilan program program bimbingan konseling, konselor haruslah berkerjasama dengan orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan konseli.
10.  Untuk mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan, diperlukan fasilitas yang lengkap.[1]

Sejumlah prinsip-prinsip yang mendasari gerak dan langkah penyelenggaraan pelayanan bimbingan konseling. Prinsip- prinsip ini berkaitan langsung dengan tujuan, sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung seta berbagai aspek operasionalisasi pelayanan bimbingan konseling. Dalam hal itu perlu diperhatikan sejumlah prinsip- prinsip, yaitu :
A.    Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan:
1.      Bimbingan konseling melyani semua individu tanpa memendang umur, jenis kelamin, suku dan agama serta status sosial ekonomi.
2.       Bimbingan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
3.      Bimbingan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu.
4.      Bimbingan konseling memberikan perhatian umum kepada perbedaan individual yang menjadi oreantasi pokok pelayanannya.
B.     Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu:
1.      Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan perbedaan dan sebaliknya, pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dn fungsi individu.
2.      Kesenjangan sosial ekonomi dan budaya merupakan faktor timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian utama, pelayanan bimbingan konseling.
C.    Prinsip-prinsip yang b erkenaan dengan program layanan:
1.      Bimbingan konseling merupakan bagian intergal dari upaya pendidikan dan pengembangan individu, oleh klarena itu program bimbingan dan konseling harus diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
2.      Program bimbingan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
3.      Program bimbingan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan dari yang terendah sampai yang tertinggi.
4.      Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu diadakan penilaian yang teratur dan terarah.
D.    Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan:
1.      Bimbingan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahan nya.
2.      Dalam proses bimbingan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaklah atas kemauan individu itu sendiri, bukan karena kemauan dan desakan dari pembimbing atau pihak lain.[2]

Prinsip dasar yang dipandang sebagai pondasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip- prinsip ini berasal dari konsep- konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik sekolah/ Madrasah maupun di luar sekolah/madrasah. Prinsip-prisip ialah bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah, baik pria maupun wanita, baik anak- anak, remaja maupun dewasa. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik ( berbeda atau sama lainnya) , dan melalui bimbingan konseli di bantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa menjadi fikus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingan menggunakan teknik kelompok. Bimbingan juga menekankan hal yang fositif. Dalam kenyataan masih ada yang memilki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, kerena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
            Bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru- guru dan kepala sekolah/ Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai tiamwork. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkann untuk membantui konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasehat kepada konseli,yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tuijuannya, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputuasan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus di kembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangakan kemapuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.[3]
Van Hoose ( 1969) mengemukakan bahwa prinsip bimbingan konseling itu ialah:
a.       Bimbingan didasarkan pada keyakinan bahwa dalam diri setiap anak terkandung kebaikan-kebaikan.
b.      Bimbingan didasarkan pada ide bahwa setiap anak adalah unik, seorang anak berbeda dengan anak yang lainnya.
c.       Bimbingan merupakan bantuan kepada anak-anak dan pemuda dalam pertumbuhan dan perkembangan merekamenjadi pribadi yang sehat.
d.      Bimbingan merupakan usaha membantu mereka yang memerlukannya untuk mencapai apa yang menjadi idaman  masyarakat dan kehidupan.
e.       Bimbingan adalah pelayanan, unik yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dengan latihan-latihan khusus, dan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan diperlukan minat pribadi khusus.

Shertzer dan stone ( 1981) menyatakan bahwa prinsip merupakan cara bimbingan dan konseling bekerja, menerangkan bentuk kegiatannya yang utama dan menjelaskan tentang andaian falsafahnya:
Prinsip 1. Bimbingan bertanggungjawab tentang sistem perkembangan pribadi seseorang.
Prinsip 2. Cara utama bimbingan konseling dikendalikan dengan menggunakan proses tingkah laku individu, bimbingan dan konseling membahas tentang perkembangan pribadi, bimbingan dan konseling bekerja dengan urutan kejadian yang terdapat daalam konteks kehidupan mereka.
Prinsip 3. Bimbingan diorientasikan ke arah tolong menolong dan bukan paksaan. Pelajar tidak boleh dipaksa untuk tunduk kepada bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan kesanggupan bersama individu yang terlibat.
Prinsip 4. Manusia mempunyai kemampuan untuk perkembangan dirinya. Konselor cenderung percaya bahawa setiap orang mempunyai kemampuanuntuk mewujudkan sikap diri yang lebih baik dan perlakuan dan sikap yang khusus mempengaruhi oleh asfek-asfek individu.
Prinsip 5. Bimbingan dan konseling berdasarkan kepada harga diri dan nilai individu yang sama dengan hak mereka untuk memilih.
Prinsip 6. Bimbingan dan konseling suatu proses pendidikan yang berkesinambungan. Bimbingan dan konseling dimulai dari sekolah dasar sampai keperguruan tinggi, sepantasnya bersatu di atas tema dan diintegrasikan ke dalam keseluruhan program sekolah.[4]




















DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar M. Luddin, Dasar – dasar konseling, Citapustaka Media Printis : Bandung ,2011,hal.33-36


Lahmuddin Lubis, Konsep-Konsep Dasar Bimbingan Konseling, Citapustaka Media: Bandung, November  2006,hal.25-28


Novi Hendri, psikoligi Dan Konseling Keluarga,Citapustaka Media Perintis, Bandung:2012.hal, 3-5


Tarmizi, Pengantar Bimbingan Konseling, Perdana publishing, Maret 2011, hal.45-47





[1] Lahmuddin Lubis, Konsep-Konsep Dasar Bimbingan Konseling, Citapustaka Media: Bandung, November 2006,hal.25-28
[2] Tarmizi, Pengantar Bimbingan Konseling, Perdana publishing, Maret 2011, hal.45-47
[3] Novi Hendri, psikoligi Dan Konseling Keluarga,Citapustaka Media Perintis, Bandung:2012.hal, 3-5
[4] Abu Bakar M. Luddin, Dasar – dasar konseling, Citapustaka Media Printis : Bandung ,2011,hal.33-36